Senin, 09 November 2009

menanti hujan



cuaca yang begitu panas..memaksaku untuk terus menanti hujan...
aku ingin orang- orang disekitarku tak lagi mengeluhkan rasa panas atau sinar teriknya yang membuat buih keringat hingga banyak keluhan terlontar...

aku ingin bulan kesebelas dalam penanggalan masehi ini diwarnai dengan hujan..titik airnya, dinginnya angin, gelegar petirnya, hingga gelapnya langit memaksaku untuk terus merindukan hujan..

menanti hujan di bulan kelahiranku..bulan di mana aku bisa menghirup udara bebas, dan melihat seberkas cahaya mentari serta merasakan rinai hujan...bulan yang menganugerahiku sebuah cinta, yang masih kupegang..kurawat dan kupelihara hingga hari ini...

walaupun keinginanku menanti hujan sangat besar, tetapi lebih besar lagi menanti mu kembali seperti dulu...sedikit meluangkan waktu dan menjadi dirimu kembali..percayalah itu yang selalu kutunggu...

persimpangan



berada di persimpangan jalan membuat seseorang yang beranjak dewasa harus memilih dengan bijak..jalan mana yang akan ditempuh...

setiap waktu dipertemukan dengan banyak orang, berkenalan dengannya, terlibat lebih jauh ataukah membiarkannya berlalu begitu saja adalah sebuah keputusan sesaat...

namun, tanpa disadari hidupmu dan hidup orang- orang disekelilingmu di pertaruhkan kala itu, entah karena jalan berbelok ataukah setapak yang lurus yang hendak kau pilih untuk ditempuh...

aku berdiri disini menanti seseorang menunjukkan jalanku...mengajakku bersamanya, membiarkanku memilih sendiri ataukah memaksaku untuk tetap disini dan tak beranjak sedikitpun...

merasa terasing..




asing...itulah perasaan yang berkuasa dalam hatiku beberapa bulan terakhir ini...
asing jika berada dekat dengannya, seolah ketika bersamanya hanya dilalui dalam diam..tak ada lagi topik bahasan yang kami perlu diskusikan..ataukah aku sudah tidak layak untuk berbagi dengannya lagi...

mungkin aku sudah begitu sangat membosankan, hingga bersamaku pun seolah hanya dihabiskan hanya dengan diam saja juga sudah cukup..aku merasa ini terjadi padamu setelah kejadian itu..ketika semua tiba- tiba saja patah dan dia terbelah dua seperti hatiku kala itu hancur mungkin begitu pula dengan mu...

aku yang belajar untuk tidak egois dan sedikit bersabar harus dihadapkan dengan kenyataan pahit kehilangan dirimu yang dulu...bersamaku tak lagi menjadi hal yang engkau tunggu tampaknya, bercengkrama denganku seolah menghabiskan waktumu saja, ataukah mendengar segala keluh kesahku hingga hal terkecil sekalipun hanya bisa kau jawab dengan gumaman..hmmm...itu saja sudah cukup membuatku sedih, sesedih- sedihnya...

aku merasa tak ada gunanya lagi aku bertahan, aku sudah terlalu lunglai bahakan mungkin layu dan tak pantas lagi untukmu...tak ada lagi daya tarik yang harus memaksamu berlama- lama denganku...dan aku belajar untuk itu...

aku harus menerima segala perubahan ini walupun jujur terasa ada yang hilang..hatiku berontak..tetapi kuyakinkan bahwa aku merasa senang bisa berontak karena itu tandanya cinta itu masih di tempatnya dan terpelihara...

aku merasa kehilangan kekasihku yang dulu..dia tenggelam dalam dunianya dan aku terdampar disini...sendiri..tak tahu harus kemana...ataupun minta tolong pada siapa...

aku hanya bisa bilang...aku belajar untuk tidak bergantung atau mungkin segera menarik diri jika itu mampu membuatmu lebih hidup dari sebelumnya...aku hanya ingat sebuha tulisan yang kau beri padaku.."aku tak pernah sanggup untuk berpisah" dan itu kuarasakan kini...dan kau mengajariku bahwa perubahan itu pasti tetapi menerima adalah pilihan...

Minggu, 08 November 2009

SOLA...





sola yang tak pernah dengan pasti kuketahui dari mana ia berasal...yang pasti lelaki bertubuh mungil agak hitam tetapi selalu tersenyum ini telah kukenal kurang lebih 3 tahun lalu...

ya, mengenal sola disini dalam artian bukan sebagai teman tetapi langganan bola- bola daging atau istilah kerennya bakso...ada rasa ngiler ataukah keinginan untuk mencicipi bakso jualan sola ketika melihat gerobaknya yang berwarna kuning sedang parkir di dekat pos satpam...

seolah tak ada kata bosan...karena tiap menikmati penganan yang dijajakan sola ini sambal yang walaupun berada di level terbilang pedas tetapi cukup membuat lidah ketagihan...heran...

seperti hari ini, ketika matahari masih tetap terik..tak henti- hentinya aku dan bilQis adik angkatan di kampus menanti kedatangan sola...kami dibelit rasa lapar yang luar biasa hingga kata- kata yang kurang pantas, sumpah serapah, bahakan cacian yang akhirnya diplesetkan menjadi guyonan diungkapkan diluar batas kesadaran kami...istilahnya bilQis lapar membuat pikiran berjalan tak normal...

sekali, dua kali, tiga kali, empat kali dan berkali- kali kami mengintip melalui jendela kaca lantai 4 sola belum juga menampakkan batang hidungnya...hingga akhirnya bilQis sempat tertidur..dan syukurlah ketika dia terbangun sola telah memarkir gerobaknya di tempat biasa...takut saja bilqis mengamuk...wah siapa yang akan menenangkannya???hehehe..maaf bilqis bercanda de'...

karena alasan keletihan, kami memutuskan memesan saja biar sola yang mengantar ke lantai 4..alhasil untung tak dapat diraih, malang tak dapat di tolak...sola tak di tempat..busyet...terpaksa kami harus turun walaupun dengan rasa lapar yang mendera..

seperti biasa, kami menjadi peracik bumbu untuk diri kami sendiri..sola begitu tega meninggalkan gerobaknya seorang diri..banyak kata- kata yang kulontarkan dengan bilQis mungkin ada beberapa yang sampai pada tahap sadis..

yang tak habis pikir..sola meninggalkan gerobaknya dengan puluhan bakso dan segala peralatan makan..orang- orang yang makan bisa saja langsung ambil tanpa peduli siapa atau mana orang yang jual...bahkan jika ada yang berniat jahat bisa saja bakso dimakan tanpa ada bayaran kepada sola..toh sola santai saja..

sola..oh..sola..
beberapa kesimpulan yang kutarik bersama bilQis tentang sola hari ini dan beberapa hari sebelumnya: pertama: sola punya kepercayaan tinggi terhadap gerobaknya yang bisa menjaga diri, sola bukan tukang bakso biasa tetapi merangkap pegawai di tempat ia menjajakan baksonya, sola punya alat pengendali jarak jauh yang bisa memantau siapa saja yang mendekati atau menyentuh gerobak baksonya, soal lagi bad mood tak mau jualan hari ini atau lagi nda butuh uang, ataukah jika kita makan bakso tanpa membayar ketika lewat di depan gerobak milik sola akan ada bunyi alarm seperti maling yang mengambil pakaian di mall..huh..yang pasti sola merasa dirinya lah yang dibutuhkan bukan dia yang membutuhkan orang untuk membeli baksonya...

apapun itu..salut untuk sola...

sahabat pagiku






pagi ini memang agak beda. rasanya seluruh persendian tubuhku ngilu dan nyeri. aku belum juga beranjak dari sini,tempat yang selalu menemaniku kala lelah meraja. tubuhku masih berasyik masyuk dengan guling dan bantal, namun seperti hari kemarin aku harus segera bangun sebab rutinitas pagi telah menantiku.

dengan langkah sedikit oleng, aku ke kamar kecil bersentuhan dengan dinginnya air yang menjadi sebuah alarm agar aku segera tersadar bahwa ini sudah pagi. memang betul rasanya begitu segar setelah wajah dibasuh. dan sekarang lah waktunya....

sedikit menyisir rambut yang acak- acakan kemudian tersenyum didepan cermin. oh, syukurlah senyum itu masih ada dan yang lebih penting gigi ginsul yang jadi identitasku juga masih ada....(hehehehe)

aku menengok kebelakang lemari, mencari benda panjang berambut persegi eh tepatnya agak mirip trapesium. nah, itu dia si sapu ijuk. dia adalah senjata andalanku, akupun telah lama bersahabat dengannya. aku dan dia bahu membahu melaksanakan dinas kebersihan dalam rumah. ibu lantai pun langsung tersenyum riang, ketika wajahnya yang putih terlihat bersih dari ceceran pasir dan debu yang datang seenaknya.

tak hanya si sapu ijuk, sepupunya sapu lidi dan keponakannya si kain pel hingga kerabat jauh mereka ember dan gayung menjadi sahabatku di pagi hari. secara bergantian aku bercengkrama dengan mereka. si sapu ijuk akan menemaniku membersihkan ibu lantai, lalu si sapu lidi membantuku menyisir bibi tanah yang kusam karena dedaunan. si kain pel akan memandikan ibu lantai agar wajahnya lebih mengkilap tentu saja dengan wewangian lemon, apel, ataukah ekstrak mawar.

setelah semuanya bertugas, aku merasa ada yang memanggil- manggil namaku.
"halooo...kami belum dimandikan.." disusul "bisakah aku minum? aku sudah sangat haus..."
astaga...keluarga tanaman belum mendapatkan haknya hari ini...ember berisi air tak lupa gayung berwarna senada membantuku merawat tubuh keluarga tanaman.

o,iya kadang- kadang tugas ini aku lalaikan, alasannya aku harus bersusah payah bolak- balik mengangkat air dengan si ember agar semua keluarga tanaman bisa mandi dan minum di pagi hari. fiuuhhh...

namun, layaknya di sinema elektronik alias sinetron tiba- tiba saja semuanya terasa sejuk ditambah efek semilir angin ketika semua kewajiban pagi kutunaikan...hah...rasanya lega dan begitu puas, istirahta pun bisa lebih enak..dan yang pasti orang rumah tak akan mengomel karena rumah sudah bersih dan rapi...

terima kasih sahabat pagiku, kalian partner kerja yang hebat...
sampai ketemu di pagi- pagi berikutnya....

Rasa bersalah itu datang lagi...




dia datang lagi, mengintip dibalik tirai hati.
aku mengenal rasa itu, bahkan mungkin sedikit akrab saking seringnya ia bertandang. tak ada petir atau angin kencang yang mendahului sebagai tanda pengingat kalau ia akan datang. karena seringkali ia datang tiba- tiba, menyusup dinding hati lalu diwaktu tak terduga ia menampakkan diri...

banyak pengalaman dengannya, beberapa masih membekas bahkan jadi tamparan keras yang menjadi titik balik bagiku untuk memperbaiki diri...

dan hari ini, dia datang lagi. dia merayap pelan- pelan dan membuatku hampir kalah. aku lalu berpikir kenapa ia datang di saat seperti ini??ketika aku memang sedang lemah dan butuh semangat untuk tetap bertahan...

ia datang melalui sosok yang paling kuhormati dan kukasihi, walau silang pendapat dan ketidak cocokan kadang menjadi bumbu interaksiku dengannya...

ucapannya begitu lembut disana terselip pula do'a yang tulus. sontak jantungku berdegup kencang, apa yang kulakukan??? begitu jahat dan buruknya perilakuku selama ini...
disanalah rasa bersalah itu bermain, ia menyergapku begitu kuat. hingga kaki yang kujejakkan seolah tak tak menginjak bumi...

dari lubuk hati yang paling dalam, aku meminta maaf...
maaf, kata yang mungkin terlalu basi untuk sering kuhanturkan...

aku hanya merasa sering tak betah untuk tetap bertahan atau berlama- lama..
walau kutahu inilah tempat yang selalu menerimaku, apa adanya bahkan ketika kurapuh dia tak peduli...

aku tahu, aku akan merasa sedih yang sangat dan sesal yang mendalam ketika aku harus pergi meninggalkannya..dan kurasa waktunya tak lama lagi tiba...

dasar manusia biasa, sering lalai dan tak tahu apa sebenarnya yang didinginkan..
begitulah aku..
semoga tuhan berkenan menunjukkan jalan agar hanya yang terbaik yang selalu kupilih..amin...

Senin, 26 Oktober 2009

sunyi..

Ini kisah seorang adik kecil yang beranjak dewasa..ia punya kehidupan yang biasa- biasa saja tak ada yang istimewa. hingga suatu ketika nasib membawanya ke arah yang tak pernah dia duga...dia hidup dan mengenal dunia yang sebelumnya tak pernah ia jamah..awalanya ada rasa takut. namun, setelah lama mencoba dan beradaptasi akhirnya ia mulai menikmati dan berdamai dengan keadaannya...

ia pun tenggelam..seolah tak pernah berharap agar bisa keluar dari pusaran hidup barunya ini.waktu berlari, mengejarnya kadang ia merasa begitu cepat bagai roda mobil balap kadang ia merasa begitu lamban bagai putaran roda pedati...namun waktu tetaplah waktu ia akan terus berjalan, lamabn atau cepat tak ada yang bisa menghentikan..

masa keemasan direguknya, hampir tak ada puasnya.hingga akhirnya masa itu tiba juga.masa dimana ia merasa begitu sepi, sunyi sendiri, dan merindukan dirinya yang dulu...tanpa sengaja ia melihat sang kakek duduk didepan mesin jahitnya, ia melamun sendiri...si adik kecil merasakan apa yang kakeknya rasakan..sebuah nama bernama sepi bertahta dihatinya...ada miris dan perih disana...dia bisa merasakannya..dan sesuatu yang bening tak terbendung lagi..ia tumpah...menagislah si adik kecil..ia tahu rasanya sepi, ia takut sepi, namun ia bahagia bisa merasa sepi...ia tak bisa ditolong oleh siapapun..kecuali dirinya sendiri..ia dan dirinya akan bertahan melawan sepi...mungkin memang si adik kecil harus merasakan sepi agar bisa menghargai sebuah masa ketika bersama...

Template by:
Free Blog Templates