
Hari itu malam berlalu seperti biasa. Saat aku pulang ke kota kita dan menghabiskan malam bersamamu sesaat sebelum aku kembali ke kota tempatku mencari nafkah keesokan harinya.
Setelah makan malam usai, telepon selulerku berdering. Pamanku bicara di ujung telepon, dari pembicaraan itu aku mendadak harus kembali pagi- pagi sekali. Saat itu pula, perasaanmu berantakan. Entah bagaimana permulaannya, tetapi yang bisa kuingat, kau mungkin terkejut mendengar aku harus berangkat subuh, dan entah apa lagi yang mencampurinya hingga sejak malam itu semuanya terasa menyesakkan.
Aku tiba di rumah. Seperti biasa, aku menghubungimu sebelum tidur. Nada terhubung terdengar, tetapi tak ada jawaban disana. Aku berpikir kau mungkin sudah terlelap. Aku beranjak, membereskan pakaian yang kususun dalam ranselku. Nada pesan singkat terdengar. Aku membacanya, itu pesan darimu, kau bilang padaku untuk beristirahat lebih awal karena besok akan berangkat di saat langit mungkin belum juga terang. Aku tidak membalas pesanmu,tetapi langsung menelponmu. Lalu apa yang kudapati ? operator menjawabku, nomor ponselmu sedang tidak aktif. Aku mengernyit, ada yang sedang berlangsung tak wajar.
Ayam baru memulai kokokannya bersahutan. Dan aku sudah siap berangkat dengan kendaraan roda duaku. Kucoba menghubungimu lagi, sekedar untuk berpamitan dan berpesan agar selama aku pergi kau harus selalu baik- baik saja. Nomor ponselmu tak aktif lagi, mungkin kau masih dibuai mimpi. Aku hanya mengirimu pesan singkat, berharap kala kau bangun kau akan membacanya. Kumasukkan kunci, kustarter motor dan perjalanan kembali ke kota tugas kumulai.
Matahari mulai naik, seperti membuntuti di belakangku. Aku sudah di daerah kabupaten lain. Aku beristirahat sejenak. Kurogoh ponsel di saku, kemudian menelponmu. Tak ada jawaban, semua masih sama seperti semalam, bahkan lebih parah. Sama sekali tak ada sapa darimu, dan kepanikan seketika menyerang saraf- sarafku. Kuhubungi kakakku, mengantarkan barang yang tak sempat kuantarkan secara langsung, sekaligus menjadi duta yang kuutus untuk melihat keadaanmu. Sungguh, aku sangat khawatir.
Kepada kakakku, kau bilang ponselmu rusak hingga komunikasi kita terhambat. Aku berusaha mafhum. Namun, naluri memang tak bisa dibohongi. Hati selalu mencari kebiasaannya, dia mencari hati yang selama setahun ini selalu lembut membelainya, meski itu hanyalah ucapan berhati- hati selalu ataukah pertanyaan sudah makan apa belum. Perhatian sederhana, sesederhana diriku, yang merasa cukup jika bersamamu.
Sehari berlalu, tanpa perubahan sikap darimu. Kucoba menanyakan apa yang terjadi,dan jawaban yang kuterima adalah tidak terjadi apa- apa kau hanya sedang banyak pikiran. Dua hari, tiga hari, hingga empat hari kau masih mengurung dirimu dalam kerangkeng bisu. Pertanyaan- pertanyaan dalam kepalaku sedikit lagi menyeretku ke jurang frustasi. Jawabanmu sudah terformat. Tidak, maaf untuk kali ini aku sudah tidak bisa ditenangkan dengan semua alasanmu. Aku butuh penjelasan, aku tidak pernah berniat untuk menekanmu, atau menjadi seseorang yang tersenyum sendiri saat kau malah murung.
Bukankah dua orang yang memutuskan bersama sudah bersedia saling meminjamkan bahu untuk bersandar, saat salah seorang sedang bersedih? Dimana wanita yang kukenal berhati lembut dan berpikir dewasa? Wanita yang selalu bisa menerima kelakuan- kelakuan bodoh lelaki sepertiku. Aku tak pernah rela jika wanita baik hati yang kukenal dan berharap menemaniku selamanya hilang. Waktu empat hari menjadi tidak adil untuk mengubah dan meleburkan segala kebaikanmu, sungguh aku tak akan pernah rela.
Tahukah engkau? Sudah berhari- hari sejak kau tak menyapa malamku, aku dibekap rindu. Mataku terpejam, tetapi aku sama sekali tak mampu tertidur. Isi kepalaku memberontak, hatiku berteriak menanyakan keberadaanmu. Sekelilingku ramai, tetapi aku merasa kesepian. Ada lubang yang menganga dihatiku, hampa, menyisakan tikaman sedih yang dalam.
Aku mungkin tak pantas lagi untukmu karena terlalu banyak bersalah padamu, salah yang tidak kusadari. Yang selalu kuharap bisa kau ungkapkan, agar aku bisa memperbaikinya, meski kau tak pernah lagi mau menormalkan keadaan, aku bersedia dengan segala kemungkinan terburuk, dengan satu tujuan asal kau bahagia.
Disini, di kamar sempit dengan udara dingin yang menusuk dan hujan yang turun diluar sana, kutitipkan salam rinduku padamu. Sebenarnya, ada satu kejujuran yang ingin kukatakan, bahwa diammu menyiksaku kekasih. Bisakah kau bicara sepatah kata saja padaku, setelah marahmu mulai mereda? Sepotong kata maaf pun sudah sangat berarti, untukku lelaki yang belum sanggup membalas kebaikan, ketulusan serta pengorbananmu untukku.
Catatan : dari curahan hati seorang sahabat yang meminta sebuah tulisan permohonan maaf, berharap tulisan ini mampu mencairkan kebekuan hati kekasihnya…

0 komentar:
Poskan Komentar