Entah sejak kapan jalan beraspal itu mulai rusak. Kerikilnya berhamburan, lubang menganga dimana- mana,jika hujan tiba air pun menggenangi lubang itu. Siapapun yang melewati jalan itu pasti harus memelankan laju kendaraannya, sambil sesekali menggerutu, mencemooh hingga naik level menjadi mengutuk kinerja pemerintah. Tetapi aku menjadi pengecualian.
Aku sengaja memilih jalan itu jika hendak kemana- mana. Sudah tak terhitung banyaknya aku bersedia memutar haluan sekedar bisa berlalu di jalan aspal berlubang itu. Kurelakan jarak tempuh berkali lipat asalkan bertemu jalan aspal yang berlubang itu. Bisa kukatakan dalam sehari, jalan aspal berlubang itu wajib kulewati.
Seperti hari ini, hujan turun deras sekali. Petir dan kilat menyambar bergantian. Gemuruh air membawa serta angin yang berhembus lumayan kencang. Pepohonan terhuyung- huyung diterpanya, pegangan tangkai daun tak sanggup melawan,mereka melemah, akhirnya dedaunan berwarna coklat itu memilih berguguran. Pasrah menyatu dengan tanah. Aku duduk di beranda, bersiap keluar rumah. Namun, hujan menahanku, memaksa untuk menanti sesaat hingga ia mereda.
Air hujan merembes, menyelinap melewati lubang atap seng, kemudian jatuh membasahi lantai kayu rumahku. Ada yang indah kala hujan, dimana hening berbaur dengan gemuruh, alam bercengkrama dalam gejolak. Dalam imaji kecilku dahulu hidup sebuah cerita. Saat hujan, bangsa di atas langit sedang berperang, dewa halilintar, dewa kilat, serta dewi angin berselisih dan terlibat keributan. Rakyat biasa diatas langit ketakutan, seperti lazimnya rakyat sipil akan menjadi korban dalam setiap pertempuran. Para penghuni langit pun menangis. Tangis merekalah yang menjadi hujan. Jatuh ke bumi, tempat manusia hidup, tempatku hidup.
Imaji ini kusimpan sendiri dalam kotak Pandora ingatanku. Meskipun di sekolah aku telah belajar bagaimana hujan terjadi, pikiranku sendiri tentang hujan tak kubiarkan kemana- mana. Mungkin itulah yang membuatku selalu menyukai hujan, karena rinainya berdetak seperti waktu, berdenting seperti dawai gitar. Aku senang hujan, girang saat reda, sebab ada kicau burung dan angin semilir membawa serta sisa- sisa air yang dinginnya sanggup menembus relung yang tertutup rapat sekalipun dalam dirimu.
Beberapa saat berlalu, aku mulai gelisah, hujan tak kunjung usai. Padahal senja hampir tiba, dan yang membuat perasaanku semakin tak karuan adalah aku belum melewati jalan aspal berlubang itu hari ini. Kugerak- gerakkan kakiku, sekedar untuk menenangkan diri. Meski menggilai hujan, hari ini ia tak mampu mengalihkan perhatian dan hasratku untuk melintas di jalan aspal berlubang itu.
aku sudah tak mampu ditenangkan lagi, walau masih rintik, aku memilih menembusnya. Kendaraanku melaju, hingga tibalah aku di jalan aspal berlubang itu. Kendaraanku melambat, lambat sekali, nyaris berhenti. Jantungku berdegup. Ada beberapa orang bercakap di halaman rumah itu, rumah yang didepannya ada jalan aspal berlubang. Aku ingin sekali menolehkan kepala, dan mencari sesosok di antara beberapa orang itu, tetapi engsel leherku seperti berkarat, kaku, dan terkunci. Hanya ekor mataku yang mau bekerja sama dengan hatiku, berusaha mendeteksi keberadaanmu.
Kini terungkaplah rahasia, mengapa aku memilih lewat di jalan aspal berlubang itu. Sederhana. Karena jalan berlubang itu ada di depan rumahmu. Melambatkan jalan atau malah berhenti tepat di depan rumahmu memberiku bahagia. Aku bisa mencuri- curi melihatmu, berharap bertemu atau suatu waktu bertumbuk tatapan mata, seseorang yang kusukai sejak dulu.
Jangan salahkan aku, jikalau sering berdoa agar supaya semua jalan berlubang segera diperbaiki oleh pejabat yang berwenang, kecuali jalan di depan rumahmu. Biarkan berlubang selamanya, agar aku selalu bisa memperlambat atau menghentikan langkah disana.

0 komentar:
Poskan Komentar